Widget HTML Atas

Terhipnotis Nike Ardilla

Bukannya sekali... Seringku mencoba.... Namun kugagal lagi... Mungkin nasib ini... Suratan tanganku... Harus tabah menjalani....

Roman Diary - Lirik-lirik lagu inilah yang 25 tahun lalu menyihir Adi Fahman. Kala itu dia masih nyantri di salah satu pondok pesantren di Jombang, Jawa Timur. Adi masih bocah, umurnya baru 7 tahun. Sudah lama bocah itu tergila-gila pada Nike Ardilla.

Raden Rara Nike Ratnadilla Kusnadi alias Nike Ardilla meninggal 22 tahun lalu. Pada pagi selepas subuh, 19 Maret 1995, mobil yang dikendarai Nike bersama asistennya menghajar tempat sampah beton di Jalan Riau (sekarang Jalan R.E. Martadinata), Bandung. Ketika itu Nike masih sangat muda, baru lewat tiga bulan dari ulang tahunnya yang ke-19.

Nike yang cantik dan masih sangat belia itu tengah berada di puncak karier. Album pertamanya, Seberkas Sinar, yang diluncurkan saat dia baru berumur 13 tahun, meroketkan nama Nike. Album ini laris manis. Demikian pula album-album Nike berikutnya, Bintang Kehidupan, Suara Hatiku, sampai album terakhir, Sandiwara Cinta.

Tapi kematian tak memudarkan nama Nike Ardilla. Bukan cuma penggemar lama Nike yang masih terus memujanya, bahkan tak sedikit mereka yang lahir setelah kematiannya tergila-gila pada Nike Ardilla. “Aku juga nggak ngerti bagaimana fans Nike bisa betul-betul fanatik,” kata Adi. Setiap tahun selama 22 tahun, terutama pada 27 Desember, tanggal lahir Nike, dan hari kematiannya, ratusan orang masih menyambangi makamnya di Desa Imbanagara, Ciamis, Jawa Barat.
Penggemar Nike berziarah di makamnya di Ciamis, Jawa Barat

George Quinn, dosen senior di Australian National University, Canberra, menulis artikel bertajuk “Nike Ardilla, Instant Pop Saint” di jurnal RIMA Review of Indonesian and Malaysian Affairs pada 2007. Quinn “membandingkan” orang-orang yang berziarah ke makam Nike dengan mereka yang sering berziarah dan berdoa di makam Wali Songo.

Pemujaan terhadap Nike barangkali susah dimengerti oleh mereka yang tak tergila-gila pada penyanyi itu. Laman Facebook Nike Ardilla, misalnya, sudah mengumpulkan hampir 4 juta like. Bahkan ada yang pernah berniat membeli akun itu senilai Rp 100 juta. Adi dan teman-temannya tak mau melepaskannya.

Pada 2013, 18 tahun setelah kematiannya, Nike “meluncurkan” album lagi. Adi telah lama mendengar selentingan kabar bahwa pada umur 12 tahun, Nike, yang masih memakai nama Nike Astrina, pernah membuat album di bawah bendera JK Records namun tak sampai dipasarkan. Menurut manajemen JK Records, Nike kala itu dianggap terlalu muda untuk menyanyikan lagu-lagu mellow percintaan.

JK Records bersedia meluncurkan album Nike yang tak pernah dipasarkan itu asalkan Adi dan teman-temannya bisa mengumpulkan 1.000 like. “Nggak sampai seminggu sudah terkumpul dan akhirnya album itu dirilis…. Sebagai fans, saya bangga banget bisa turut andil dalam prosesnya,” katanya.

Kala ku seorang diri hanya berteman sepi dan angin malam
Ku coba merenungi
Tentang jalan hidupku

No comments for "Terhipnotis Nike Ardilla"