Wayang Di Negeri Berbudaya
![]() |
| Peta Majapahit Empire |
Begitu gampangnya sekelompok orang menyalahkan kelompok lain, bahkan yang lagi ramai dipebincangkan diakhir tahun 2016 sampai sekarang. Pilkada DKI Jakarta. Seperti tidak ada habisnya pemberitaan media masa baik media elektronik maupun media cetak. Munculnya calon non muslim ditambah non warga adat indonesia, yang sama sekali tidak melanggar undang- undang pemilu, berbutut politik tak santun dan politik menghakimi mengemuka.
Sekelompok masyarakat memberikan gambaran bahwa pada zaman keemasan Majapahit, justru ditandai dengan nama-nama pembesar raja, mahapatih dan nayaka yang menggunakan nama binatang dengan sadar-sesadarnya. Misalnya Ratu Majapahit dengan nama Hayam Wuruk, nama Patih Gajah Mada, dan nama lain seperti Kebo Mercuet, Singa Lodra, Lembu Syuro dan lain-lainnya.
Zaman keemasan Majapahit tiba-tiba pudar dan sampailah pada zaman era kemerdekaan dimana suasana masuknya agama Islam, maka nama-nama pembesar negeri dan kaum pergerakan semakin terarah pada nilai-nilai keagamaan.
Kemudian dalam era Orde Lama banyak tanda-tanda zaman yang memberi makna pada nama tokoh pewayangan. Justru nama-nama yang ditujukan pada para elit diberikan rakyat dalam suasana humor yang menggelikan.
Seperti nama pendita Durno ditujukan pada tokoh yang suka mengadu-domba. Demikian juga nama Sengkuni ditujukan pada nayaka yang culas dan menggunakan cara-cara yang bersifat ”tipu-menipu”, dimana karakter-karakter tersebut muncul saja di permukaan, tanpa ada yang mengomando.
Demikian juga di era Orde Baru banyak tokoh-tokoh yang dikaitkan dengan karakter seni pewayangan.
Yang lebih merusak citra justru di era reformasi, penggunaan karakter para pemimpin disamakan dengan ”binatang”. Hal tersebut muncul begitu saja dan disambar oleh mass-media dibumbui dengan yang lain-lainnya.
Misalnya ketika muncul masalah yang berkait dengan Mafia Hukum banyak tiba-tiba dengan cara ”ujug-ujug” karakter yang disamakan dengan ”Buaya” dan ”Cicak”. Rupanya era tersebut agak panjang berlanjut, karena ada julukan tokoh ”kerbau” dalam suatu iring-iringan unjuk-rasa.
Cara-cara tersebut mengingatkan kita pada keributan anak-anak nakal yang masih dibawah umur, layaknya anak Taman Kanak-Kanak.
Ada apa dengan negeri yang konon ”berbudaya” dan konon memiliki keunggulan-keunggulan di zaman era kerajaan. Kok sekarang timbul lagi mengulang sebutan binatang, tetapi dengan suasana dan tujuan yang berbeda-beda.
Kearifan yang bijak memerlukan tokoh-tokoh yang memiliki integritas serta idealisme tinggi dan moral serta akhlak yang baik.

No comments for "Wayang Di Negeri Berbudaya"
Post a Comment
Silahkan memberikan komentar dengan bahasa yang santun