Widget HTML Atas

Memisahkan Agama Dengan Politik, Mungkinkah...?

Roman Diary - Mungkinkah untuk memisahkan agama dan politik?
Agama dan politik seperti gula dengan rasa manisnya kata KH. Saifuddin Zuhri mantan menteri agama yang anaknya juga jadi menteri agama yaitu Lukman Hakim Saifuddin.
Agama dan politik adalah sama sama naluri manusia. Agama adalah naluri manusia mencari Tuhannya. Politik naluri manusia mencari kekuasaan. Manusia itu zoon politicon kata Aristoteles. Hewan yang berpolitik. Tapi manusia juga Zoon Religion yaitu hewan yang beragama. 

Agama harusnya menjadi landasan morĂ l bagi politik, sebab politik tanpa moral akan menghasilkan kekuasaan yang kejam tanpa belas kasihan. Berpolitik tanpa agama akan menjadikan manusia seperti hewan yang berebut kekuasaan tanpa landasan moral. Kejam, sadis, brutal, tanpa tujuan mencapai kemuliaan.

Bagi saya mustahil berpolitik tanpa agama, apalagi negara masih harus mengurusi persoalan persoalan agama. Seperti pelaksanaan ibadah Haji, penentuan awal puasa, penentuan Idul Fitri dan Idul Adha dan lain sebagainya termasuk penentuan hari hari besar keagamaan lainnya yang berarti hari libur.

Jadi tidak mungkin memisahkan agama dari politik. Sekali lagi memisahkan agama dari politik sama saja dengan memisahkan politik dari landasan moralnya. Memisahkan kekuasaan dari tujuannya memuliakan kemanusiaan.

Agama tuh sentimen primordial paling yahud buat mobilisasi dukungan politik. Orang akan mudah diarah arahkan kalo urisannya dah terkait surga dan neraka.

"Those who say that religion
has nothing to do with politics
do not know what religion means."
(Gandhi)

Agama dan politik tidak bisa dipisahkan.
Cukup diberi jarak. Mungkinkah...?

No comments for "Memisahkan Agama Dengan Politik, Mungkinkah...?"