Widget HTML Atas

Pertemuan Mengharukan Dua Bersaudara

Dalang: Sawali Tuhusetya

Sungguh, sebuah tempat yang jauh dari menyenangkan. Musik yang menyangkut di telinga hanyalah orkestra suara satwa liar dan ganas yang menyakitkan.
Minuman yang mereka teguk hanyalah sumber mata air dari balik dan ceruk bukit yang gelap dan terjal. Makanan yang melesak ke dalam perut mereka hanyalah buah-buahan yang tersisa dari mulut para monyet.

wayangTidak heran apabila baru dua pekan berada di tempat itu, mereka merasa seperti terjebak dalam keabadian zaman ratusan abad lamanya. Bima yang selama ini dikenal sebagai pemuda perkasa pun nyaris putus asa. Lebih-lebih ketika Arjuna tidak berada di tengah-tengah mereka. Praktis, rombongan para putra Pandu yang tengah berada di hutan Kamiyaka yang singup itu jadi kian merasa tersiksa.

Drupadi yang cantik dan Sadewa yang lembut berkali-kali disengat demam.

 “Bagaimana kalau kita segera pindah saja dari sini, Kang Mas? Aku selalu teringat Mas Arjuna yang kini tak jelas keberadaannya. Semakin lama di sini, sakitku bukan hanya karena demam, tapi juga karena siksaan batin. Sakitnya itu di sini, Kang Mas!” keluh Sadewa sambil menunjuk dadanya.

Bima terdiam. Dia sangat memahami kondisi adiknya yang rentan kena penyakit itu. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa, selain menunggu komando kakak sulungnya, Yudistira.

Karena merasa diremehkan, Bima geram.
“Siapa sebenarnya engkau, hai kera jelek? Mengapa omonganmu seperti mampu menggetarkan pintu langit?
Aku ini ksatria keturunan bangsa Kuru dan anak Dewi Kunti.
Ketahuilah, aku ini putra Dewa Angin.
Cepat pergi dari sini! Berikan aku jalan! Kalau tidak, engkau akan kuhabisi!” kata Bima dengan nada kasar. Bola matanya menyala-nyala. Giginya gemeletuk menahan amarah. Kera itu hanya tersenyum.

 “Memang benar kata Sampeyan, aku hanya seekor kera. Tetapi, percayalah, kau akan menemui kehancuran jika tetap memaksa untuk lewat!”
 “Apa pedulimu? Aku tidak percaya! Aku siap menghajarmu! Minggirlah!”
 “Aku tak punya kekuatan lagi untuk bangun. Aku sudah terlalu letih dan tua. Kalau Sampeyan memaksa mau lewat, langkahi saja aku.”

 “Tidak ada jalan yang lebih mudah dari itu. Tetapi kitab-kitab suci melarang orang berbuat demikian.
Kalau tidak, pasti aku sudah loncati engkau dan bukit itu sekaligus dalam satu loncatan, seperti Anoman melompati lautan.” Kera tersentak.

“Wahai kesatria, siapakah Anoman yang mampu melompati lautan itu? Ceritakanlah padaku!”
 “Apakah engkau tak pernah mendengar bahwa Anoman adalah kakakku yang berhasil melompati lautan dan yojana untuk mencari Dewi Sinta, istri Sri Rama?
Aku sama dengan dia, baik dalam kekuatan maupun keperwiraan. Ah, mengapa aku jadi lama berbincang denganmu? Sekarang, bergeserlah jangan menghalangiku. Jangan membuat aku marah dan terpaksa berkelahi denganmu!” “Sabarlah, wahai kesatria perkasa! Lembut hatilah sedikit.

Tak ada salahnya bersikap lembut meskipunkuat dan perkasa. Kasihanilah yang lemah dan yang tua. Aku sungguh tak mampu bangun sebab badanku telah tua dan rapuh.
Kalau Sampeyan tidak mau melompatiku, tolong singkirkan ekorku ke samping dan carilah jalan untuk lewat!” Bangga akan keperkasaannya,
Bima bermaksud menarik ekor kera itu keras-keras dan menyingkirkannya. Namun, sungguh ia tak menduganya. Sudah berbagai macam cara dan kekuatan ia kerahkan, tetapi tak sedikit mampu menggeser ekor kera itu. Bima malu. Ia segera menunduk takzim dan memberi hormat kepada kera itu.

 “Siapakah sebenarnya engkau? Dewa atau raksasa?” “Wahai Pandawa perkasa, ketahuilah aku ini saudaramu, Anoman, anak Batara Bayu, sang Dewa Angin. Jika tidak kuhalangi,pasti telah meneruskan perjalanan dan sampai ke dunia gaib yang dihuni para raksasa Engkau pasti menemui malapetaka di sana. Karena itulah aku menghalangimu. Tak ada manusia yang bisa selamat melewati batas ini.

Sekarang, pergilah ke lembah di bawah sana. Di tepi sungai yang membelah lembah itu tumbuh pohon Saugandhika yang kaucari.” Mendengar penuturan itu, Bima sangat bahagia. Jantungnya berdegup kencang, sekujur tubuhnya terasa hangat.

Anoman bangkit, lalu menarik napas panjang. Tiba-tiba, badannya membesar bagaikan gunung, seakan-akan memenuhi hutan itu. Bima silau memandang Anoman yang menjadi luar biasa besar dan bulunya bercahaya gemilang. “Bima, di hadapan musuh, badanku bisa bertambah besar lagi,” kata Anoman.

Kemudian, ia segera mengembuskan napas dan berdiri di depan Bima. Badannya kembali mengecil, kemudian Anoman memeluk Bima. Ketika berpelukan, dua bersaudara itu merasa mendapat kekuatan luar biasa dan berlipat ganda.

 “Wahai kesatria, kembalilah kepada keluargamu. Pikirkan aku jika kau memerlukan pertolonganku.
Aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu, Saudaraku. Aku merasa seperti bertemu Sri Rama yang suci raganya,” kata Anoman.

 “Berbahagialah Pandawa sebab aku telah mendapat kesempatan untuk bertemu denganmu. Berkat pengaruh kekuatanmu, aku yakin kami pasti bisa mengalahkan musuh-musuh kami.”

 “Kelak dalam pertempuran besar, jika kau meraung seperti singa jantan, suaraku akan berpadu dengan suaramu, menggelegar di angkasa dan menyebabkan musuh-musuhmu gemetar ketakutan. Aku akan hadir di dekat bendera kereta Arjuna.
Engkau pasti menang!” kata Anoman seraya menunjukkan jalan ke tempat tumbuhnya pohon kembang Saugandhika. Sebuah pertemuan yang mengharukan.
Setelah menuntaskan kerinduan kepada saudaranya itu, Bima segera mohon diri untuk secepatnya mencari pohon Saugandhika yang diinginkan Drupadi. (Tancep kayon)

No comments for "Pertemuan Mengharukan Dua Bersaudara"